Fanfic (ZOMBIE3) story A
ATTACK
(Penyerangan Zombie)
Story Star
Andre berjalan menuju sofa. Tangan
kanannya memegang erat segelas air mineral. Ia jalan perlahan dan menjatuhkan
dirinya ke sofa dengan sekali ancang-ancang, dan membuat air dalam gelas
sedikit tumpah mengenai pakaiannya. Ini adalah hari sabtu terburuk dalam hari-harinya.
Ia merasa tidak segar dan tidak semangat.
Ia menghadap televisi berukuran 29 inc,
ia menatap dengan serius kedepan, entah apa yang ditatap. Karena, tv hanya
menggambarkan hitam polos. Listrik telah padam 1 bulan yang lalu, karena tempat
pembangkit listrik sudah dikosongkan. Sebenarnya perusahaan listrik tersebut
telah dikosongkan sekitar 2 bulan yang lalu. Tapi Andre cukup beruntung
perusahan pembangkit listrik meninggalkan kantornya tanpa menghentikan
pemasokan listrik. Jadi, Andre bisa menggunakan listrik selama 1 bulan penuh sebelum
pemadaman, dan tanpa harus membayar.
Andre masih berusia 15 tahun, tapi 4
bulan kemudian ia akan memasuki usia 16 tahun, rambutnya sudah panjang untuk
ukuran anak lelaki yang masih bersekolah, tubuhnya kurus, dan kulitnya pucat
karena kekurangan cahaya matahari.
Ia mengurung dirinya dalam rumah sudah
hampir 2 bulan. Tepatnya 2 bulan 3 minggu 6 hari, yang akan menambah pengurungannya
menjadi 4 minggu pada esok hari. Dan akan mendekati menjadi 3 bulan. Ia tinggal
sendiri dirumah, rumah yang sepi agak sedikit menakutkan karena ruangan gelap.
Padahal jam masih pukul 3 sore. Penerangan matahari tidak membantu apapun. Karena
cahaya matahari hanya masuk melalui celah kecil dari tirai yang menutupi
jendela yang disegel kokoh oleh tumpukan kayu.
Andre hanya bisa menunggu. Sebelumnya ia
sudah meminta bantuan kemana-mana, ia sudah berusaha mengirim pesan pada seluruh
nomor yang ada di kontak ponselnya. Tapi semua mengacuhkannya. Tak ada balasan
dari mereka.
Dengan melewati ponselnya juga, Andre
sudah meminta batuan di akun jaringan sosialnya. Tidak hanya sekali, namun
sudah berkali-kali. Tapi nasibnya sama, tidak ada perhatian apapun dari
teman-temannya didunia maya.
Ia terus mencoba sampai pulsanya habis
dipakai mencari bantuan, dan sekarang handphone-nya
sudah berada ditempat sampah karena baterainya mati tidak bisa di cas.
Andre mengalihkan pandangannya kearah
pojok kanannya dekat pintu kamar orang tuanya. Disana terletak persediaan
makanan dan keperluannya.
Andre meringis sebal. Persediaannya
tinggal sedikit lagi. Hanya tersisa 2 galon air minum, 3 gas yang beratnya 5kg,
1 pak mie yang berisi sekitar 24 bungkus, dan 2 pak susu kental yang didalamnya
terdapat 12 bungkus, ditambah dengan kebutuhan lain seperti minyak goreng, dan
bumbu lainnya. Entah sampai kapan kebutuhan itu bertahan, ia sudah mencoba
untuk menghematnya tapi tetap saja perlahan-lahan habis.
Andre meneguk minumnya sampai habis, dan
menaruhnya kemeja didepannya.
Diatas meja ada banyak sekali benda. Seperti
lilin, batu baterai, foto keluarganya, senter, korek, bahkan pistol pemberian
tetangganya tergeletak rapi disana. Untuk jaga-jaga. Walaupun tidak pernah
digunakan sekalipun, karena tidak bisa menggunakannya.
Andre membaringkan tubuhnya pada sofa
yang kecil, kakinya sedikit terjulur keluar sofa hijaunya. Andre menatap tajam
ke arah lampu yang sudah ditempati oleh belasan laba-laba. Membuat sekitar
lampu penuh dengan sarangnya.
Andre mendengus kesal. Ia menutup
matanya pelan, mencoba mengistirahatkan matanya. Suasana gelap membuat matanya
cepat lelah karena harus mempertajam pandangannya agar tidak menabrak sesuatu.
Andre terbangun. Ruangan lebih gelap,
matahari sudah tidak bersinar lagi. Ia cepat menyalakan lilin yang sudah
disiapkan sebelumnya diatas meja. Ruangan kembali terang, walaupun hanya mampu
menerangi secara samar. Kemampuan lilin menerangi tidak seperti lentera, jadi
agak terbatas.
Andre melirik kearah jam dinding. Ternyata
sudah jam 7 malam. Andre terdiam sesaat, lalu ia melirik kearah pintu yang
menghubungkan keluar rumah. Untuk memastikan aman dan masih terkunci rapi.
Ia agak takut, biasanya pada saat malam
seperti ini para zombie lebih aktif dibandingkan saat siang hari yang lebih
sering berteduh menghindari cahaya matahari langsung.
Seseorang memukul-mukul pintu, mungkin
salah satu zombie, ia pasti melihat cahaya dari luar. Suara pukulannya bertambah
banyak sesuai kerasnya pukulan dari setiap zombie.
Zombie mempunyai otak yang rumit, mereka
bisa mengetahui adanya manusia lewat kegiatan yang mungkin hanya manusia
lakukan. Insting mereka memang kuat.
Seperti lewat cahaya, tidak semua
cahaya, hanya yang ditimbulkan oleh manusia. Zombie juga sangat peka pada suara
yang bising, bahkan mereka bisa menganggap suara bising yang ditimbulkan oleh
mereka sendiri sebagai suara bising yang dihasilkan oleh manusia. Sangat bodoh!
Semua itu adalah undangan makan malamnya.
Selain peka terhadap suara dan cahaya, zombie juga bisa mencium darah segar, namun
mereka bisa mencium darah segar hanya dengan jarak 2 meter saja, tapi itu
sangat mengganggu.
Andre dengan cepat mematikan lilin tadi.
Ia bisa memprediksi diluar rumahnya sudah banyak zombie yang berkerumun. Walaupun
suara gedoran pintunya semakin melemah. Hanya terdengar suara geraman dan
desisan dari mereka, geraman yang menakutkan.
Zombie mulai berdatangan, malah salah
satunya mencoba membuka pintu, ia terus memutar-mutar gagang pintu agar
terbuka.
Zombie memang mempunyai kecerdasan yang
masih sama seperti manusia normal. Namun, nafsu mereka menahan kecerdasannya.
Membuat mereka agresif seperti binatang.
Andre menutupi dirinya oleh selimut
lumayan tebal. Dan berusaha sedemikian mungkin tidak bergerak. Ia ketakutan,
nafasnya memburu karena takut dan juga kurangnya suplay oksigen dari dalam
selimut. Andre tau saat ini zombie tidak bisa melihatnya dari luar karena
terhalang tirai, tapi ia tetap saja ketakutan.
Andre mencoba tidak memikirkan yang
berada diluar. Dan mencoba untuk tidur. Tapi tidak bisa, ia baru saja terbangun
dari tidurnya.
Ia sudah tidak lelah lagi, dan tidak ada
yang membuat Andre bisa melanjutkan tidurnya.
“Duh, sial!” pekik Andre pelan. Ia
memegang perut bagian bawahnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya
menutup matanya. Ia membenci jika disaat segawat ini ia harus pergi kencing. Ia
mencoba menahannya.
Andre membuka selimutnya sedikit untuk
melihat kearah meja. Ia mempertajam pandangannya kearah meja. Berharap
menemukan botol kosong, tapi tidak ada satu botol pun yang ada disana.
Andre sudah tak kuat menahannya lagi. Ia
mencoba turun dari sofa tanpa membuka selimutnya. Bergerak perlahan dengan
keadaan masih berbaring. Dan mencoba untuk mengurangi suara yang dihasilkan
olehnya sekecil apapun.
Kresek..
Suara pelastik dari makanan ringan yang
dibuang sembarang oleh Andre.
Andre mencoba diam untuk sesaat. Tapi
untung saja, para zombie tidak terlalu mendengar suara itu. Sepertinya Andre
baru sadar pentingnya membuang sampah pada tempat yang tepat, ini pelajaran
berarti.
Andre merangkak pelan kekamar mandi. Kamar
mandi terletak disebelah kamar orang tuannya. Ia merangkak dengan penuh
perasaan. Sesekali Andre melihat kearah luar. Memastikan bayangan dari zombie
yang tampak samar tidak bergerak mencurigakan.
Setelah berjuang sangat keras. Akhirnya
Andre berhasil meraih pintu kamar mandi. Ia segera berdiri dan membuka pintu,
dan setengah berlari masuk.
Kamar mandi berukuran kecil. Hanya ada
shower, kloset duduk, dan tempat mencuci tangan. Dan didekat kloset ada ember
lumayan besar berwarna biru gelap yang biasa untuk menampung air. Warna dinding
kamar mandi yang putih polos sudah memudar. Jamur dan lumut sudah banyak
menempel didinding karena tidak terurus.
“Apa? Apakah harus air habis disaat
seperti ini?” pekik Andre pelan.
Andre tidak mungkin menuangkan air galon
saat sekarang ini. Padahal ia sudah mencoba untuk tidak mandi. Dan memfokuskan
menggunakan air untuk buang air kecil, atau hal yang penting lainnya.
Andre melenguh kesal. Ia terpaksa menggunakan
air yang tersedia diember birunya seadanya. Walau sedikit tapi lumayan jika disaat
keadaan seperti ini.
Andre menutup kloset dan duduk diatas
kloset putihnya. Ia agak malas untuk keluar, dan melakukan ritual merangkaknya.
Lagi pula dikamar mandi ini lebih terasa aman karena tidak mendengar suara
geraman dari zombie.
Yang harus dilakukan hanya duduk dan
menunggu datangnya pagi. Dan berharap para zombie pergi menjauh dari rumahnya.
Menunggu datang matahari membuat Andre
dongkol. Ia tidak bisa tidur saat malam. Ia juga ingin keluar dari kamar mandi.
Andre melihat kearah ventilasi udara,
ada sinar matahari sedikit. Menurut perhitungan Andre. Sekarang sudah mendekati
jam 5 pagi, tapi entahlah.
Ia mencoba mengintip keluar, dari tirai
tidak terlihat adanya bayangan zombie. Andre bernafas lega. Ia perlahan
berjalan keluar, dan mengambil segelas minum. Ia duduk santai di sofanya, dan
melihat jam sebentar. Ternyata sudah jam 6 pagi, perhitungannya meleset 1 jam.
Andre berjalan mendekati persediaan makanannya.
Ia mengambil mie instan dan meremasnya. Membuat mie hancur menjadi butiran yang
sedikit kecil. Ia menaburkan bumbunya, dan mengocok mie keras. Membuat bumbu
tersebar merata pada mie. Ini sering dilakukan Andre jika ia lapar tapi tidak
mempunyai waktu untuk memasak.
Dorr,
dorr..
Andre terkejut. Apakah ada seseorang diluar? Tapi kenapa ia mengeluarkan suara bising?
Tidak tahu kah ia jika suara itu bisa mengundang zombie datang? Pikir Andre
heran.
Andre menaruh mie yang digenggamnya dan
berlari mendekati jendela tengah. Andre mengintip keluar. Tirai yang menutupi
jendela dibuka perlahan dan hanya sedikit yang dibiarkan terbuka. Hanya
memungkinkan cukup untuk Andre melihat keluar.
Andre kurang begitu jelas melihat keluar.
Karena terhalang oleh zombie yang
berjalan keluar dari halaman rumahnya menuju seseorang tadi.
Andre memutuskan mengganti jendelanya.
Ia berjalan tenang mendekati jendela yang dekat dengan pintu.
Diluar ada seorang pria yang kewalahan
menembak zombie. Andre tersenyum kecut, ia memikirkan kebodohan pria itu. Ia
hanya bisa melihat saat-saat terakhir si pria berjuang diakhir kejayaannya.
Pria itu menatap tajam kearah Andre. Ia
sepertinya sadar bahwa ia sedang diamati. Tak lama kemudian pria itu berjalan
mendekat kerumah Andre.
Andre langsung menutup tirai. Dan
membalikan tubuhnya. Andre menyenderkan punggung nya kedinding kuning polos.
“Gawat!!” Pekiknya.
Suara ketukan pintu terdengar. Ternyata
pria itu sudah ada didepan pintu. Andre hanya melihat kearah pintu. Lemah.
“Woy, buka!” teriak pria itu dari seberang
pintu. Ketukannya lebih keras, sesekali terdengar suara tembakan. Sepertinya
menembak zombie yang hampir mendekatinya.
Andre berlari kearah meja, dan membawa pistolnya.
Tangannya sedikit gemetar. Ia agak takut membukakan pintu. Andre belum pernah
bertemu dengan pria tadi, wajahnya sangat asing.
Andre mendekat kembali kearah pintu. Dan
membuka kunci pintu. Pintu itu terkunci rapi oleh 3 kunci sekaligus, jadi
membuat sedikit rumit.
Setelah kunci itu dibuka. Tanpa harus
membukakan pintunya pria itu menyerobot masuk kedalam. Dan mengunci kembali
pintu. Ia terduduk membelakangi pintu yang terus diketuk zombie. Nafasnya
berat, antara kelelahan dan ketakutan.
Pria itu berusia sekitar 20 tahunan
keatas. Postur tubuhnya tinggi, dan bisa dilihat bahwa dia orang yang sering
berolahraga. Pakaiannya sudah penuh dari cipratan darah yang menjijikan.
Ia memakai jeans berwarna hitam. Dan
memakai sepatu boots dari bahan kulit berwarna cokelat, ia memakai kaos lengan
pendek berwarna coklat senada dengan sepatunya dengan selingan warna merah
terang. Tipe pria fasionable.
Tangan kanannya memegang senapannya. Sedangkan
tangan kirinya memegang jaket kulitnya yang berwarna hitam. Kepalanya ditutupi
oleh topi berwarna merah seperti pakaiannya.
Andre menodongkan senjatanya ragu. Kakinya
sedikit bergetar. Pria itu hanya melihat lurus kearah Andre.
“Apa kau terluka?” Tanya Andre yang
bingung mengawali pertanyaannya.
“Apa kau hawatir padaku?” Tanya pria
itu, ia tertawa acuh.
“Ini penting untuk ku, jika kau akan
menjadi zombie aku siap menembakmu”
Pria itu berdiri, dan berjalan melihat
sekeliling rumah Andre. Tanpa mempedulikan pertanyaan Andre.
Pistol masih mengacung kearah pria asing
itu. Andre melirik kearah pintu dan jendela, terdengar suara zombie yang terus mengedor-gedor
pintu. Dari suara geramannya, entah berapa zombie yang mengepung rumah ini
sekarang.
“Dimana keluargamu?” Tanya pria itu
datar, ia tidak mempedulikan acungan pistol.
Andre memang tidak mungkin menembak mati
pria itu. Ia berharap bahwa pria itu bisa membawanya keluar dari rumahnya. Yang
dilakukannya hanya gertakan semata. Agar ia bersikap lebih tidak semena-mena.
tapi tampaknya yang dilakukan Andre tidak menghasilkan efek apapun. Gagal.
“Apa pedulimu?” Tanya balik Andre. Senjatanya
perlahan-lahan menurun. Suara geraman zombie membuat Andre takut ia berlari
kecil menjauhi pintu.
“Kau tinggal sendirian?” Tanya pria itu
sambil tidak berhenti menggeleda seluruh ruangan.
“Kau pikir aku bersama siapa?”
“Entahlah, orang penakut seperti dirimu
tidak mungkin hidup seorang diri. Mungkin jika terjadi dengan orang lain,
mereka pasti sudah membusuk atau menjadi bagian dari mahluk itu”
Andre sedikit bingung dengan kata
‘Mahluk Itu’ apa yang dimaksudnya para zombie atau seekor kecowa, Andre benci
kecowa! Tapi Andre langsung memfokuskan yang dibicarakan pria itu adalah para
zombie.
“Ya, karena aku tidak bodoh seperti yang
lain. Khususnya sebodoh dirimu” Andre menjatuhkan dirinya diatas sofa. Ia
meletakan kembali senjatanya diatas meja, berada disaat posisi tadi membuat
ototnya lemas.
“Bodoh? Apa kau bilang aku bodoh” Tanya
pria itu. Ia duduk disofa juga, disamping kanan Andre. Tangannya sudah
menggenggam segelas air mineral penuh, ia meneguknya sampai habis.
Andre menatap kesal pada pria itu. Ia
tidak tau betapa berartinya segelas minum itu baginya, ia mempunya tingkat
kesopanan diambang garis rendah. Bahkan hampir tidak bisa dimuat oleh diagram
apapun.
Andre menghela nafas dalam. “Yap, kau lebih bodoh dari Patrick”
Patrick adalah tokoh kartun favorit
Andre. Ia biasa melihatnya di acara Spongebob. Patrick adalah sejenis bintang
laut yang sangat bodoh. Namun tubuhnya sangat menggemaskan. Gemuk dan berwarna
merah muda, Andre menyukainya.
“Kau mungkin tidak tahu, tapi aku
mendapat peringkat 10 teratas saat sekolah dulu” ia tersenyum menang.
“Lalu, apa yang tadi kau lakukan? Ingin
menjadi seolah-olah artis Hollywood yang
menantang kematian, atau berperan sebagai kesatria?” Nada suara Andre sedikit
meledek.
“Mungkin itu biasa disebut sebagai
pemecah adrenalinku. Dan ngomong-ngomong
kesatria. Aku memang kesatria sejati” jawab pria itu mencoba membuang
kesabaran Andre. Ia menyender kesamping sofa membuat Andre sedikit terusik.
“Lalu, apa kau sudah gila? Kau membuat
suara bising. Apa yang kau pikirkan?” Tanya Andre yang mencoba menahan
emosinya.
Pria itu hanya terdiam, ia hanya
memerhatikan Andre. Mulai dari muka hingga kaki, membuat Andre tidak nyaman.
“Atau apa kau berlaga tidak tau. Dan
berpura-pura baru bangun dari sekarat, dan langsung disuguhi oleh para mayat
hidup?” lanjut Andre, ia tersenyum kecut. “Gaya murahan, kau pikir dunia hanya bisa
dipakai untuk sekarat?”
Pria itu hanya diam, membisu. Matanya
menatap terus kearah wajah Andre.
“Kau liat diluar sana? Itu adalah ulahmu” lanjut Andre, ia
sudah mulai merasa terusik.
“Jika kau merasa tidak ingin membantuku.
Kenapa kau membiarkanku masuk?” pandangan pria itu lurus kemata Andre.
Yatuhan,
dia bukan gay kan? batin Andre. Andre menghela nafas mengontol emosinya.
“Aku pikir kau bisa
menyelamatkanku” jawab Andre kemudian.
Mata Andre lurus kedepan kosong.
“Satu pertanyaan” sahut pria itu.
Andre milirik kearah pria disampingnya,
ia belum tahu namanya siapa.
“Kau mendapatkan uang dari mana untuk
membeli makanan sebanyak itu? Apa kau mencurinya?”
Andre melihat kepojok tempat makanan.
“Oh, itu. Penjaga mini market disana memberikannya”
“Ternyata si pencuri ini adalah
pembohong kecil juga” pria itu tertawa garing.
“Aku berkata jujur” bantah Andre.
Pria itu bagun dari tidurannya. “Hei,
siapa namamu?”
Andre memalingkan muka, ia ngeri jika
pria itu benar-benar seorang gay. “Alex” jawab Andre singkat.
“Jangan bohong!”
“Apa kamu gay?” Tanya Andre yang sangat
penasaran dari tadi.
“Gak” jawab pria itu bingung. “Apa?”
lanjutnya yang masih bingung.
“Lalu, kenapa kau memperhatikan aku
seperti itu?” Andre memicingkan matanya. “Apa kau tertarik padaku?”
Pria itu tertawa geli. “Kau berharap aku
menyukaimu?”
“Bukan begitu, Maksudku”
“Berisik, kau hanya harus menjawab
pertanyaanku tadi, siapa dirimu!” teriak pria itu.
“Andre, lalu apa?” balas Andre yang
tidak kalah keras suaranya. Teriakan mereka membuat kegaduhan zombie makin
menjadi, Andre menyesal.
“Aku, Riga”
“Aku gak menanyakan namamu”
“Ya, senang berkenalan dengan mu juga”
balas Riga
sengaja tidak menyambung.
Andre tertawa acuh.
“E’mm, aku melihatmu hanya ingin
memastikan kau masih anak kecil” ucap Riga
kemudian.
“Aku sudah berumur 15 tahun, tidak untuk
dipanggil anak kecil” bantah Andre pelan. “Aku tadinya berharap banyak padamu”
lanjut Andre.
“Memang apa yang kau harapkan?” Riga tersenyum mencela, namun Riga juga penasaran.
“Kebebasan, aku sudah merasa sesak
dirumah ini” Andre mengangkat kakinya, dan memeluk erat. “Aku sudah 2 Bulan
berada dirumah ini, aku bersembunyi saat awal pertama ada berita tentang
zombie” Andre melirik kearah Riga.
“Kau tau kan?” Andre memastikan jika Riga benar-benar tidak sekarat saat ada
pemberitaan zombie.
Riga terdiam sesaat, namun ia mengangguk. “Sepertinya kau
terlalu berharap. Aku tidak mungkin menyelamatkan seorang bocah”
Andre melirik tajam. “Apa kau gila? Aku
sudah menyelamatkanmu, apa kau tidak tau arti balas budi?” Andre melirik foto
keluarganya.
Disana
ada dirinya bersama kedua orang tuanya, dan adik perempuannya yang bernama
Melisa.
“Lagi pula apa yang kau lakukan diluar sana?” lanjut Andre.
Andre mempunyai harapan keluar dari
rumahnya, selain untuk meraih kebebasan yang sangat diinginkannya, Andre juga
ingin pergi untuk menemui keluarganya yang terjebak di Jakarta.
“Jalan-jalan, ini adalah hari minggu
yang cerah” Riga
menggaruk lehernya.
Sebenarnya Riga datang untuk menemui
Andre. Ia mengetahuinya di akun facebooknya.,
Andre yang mempunyai nickname ‘Dre Rangga Firman’ itu selalu menulis statusnya
meminta pertolongan hingga dinding facebook
Riga dipenuhi
status kiriman Andre.
Yang paling membuat Riga ingin menemuinya
adalah status Andre yang menyatakan ‘Aku orang yang mempunyai keinginan kuat
dan pemimpi, damun aku sedikit takut, tolong selamatkan aku, aku terjebak
dirumahku, aku ingin terbebas dari sini, mayat hidup menyergapku, aku tau kau
orang yang berhati malaikat, Please save me!’ bahkan ia menaruh foto seekor
kucing yang memohon dengan mata memancarkan kesedihan.
Mungkin Andre tidak mengingat bahwa ia
berteman dengan Rigadi akun jaringan sosialnya.
Riga selalu berfikir Andre cowok lemah dan penakut, jadi Riga ingin mengerjai
Andre. Ia merasa penasaran jika Andre berdiri sendiri dijalanan yang dipenuhi
zombie, pasti menyenangkan.
Genjrennnggg…
Prakkk..
Salah satu zombie memecahkan kaca
jendela. Andre dan Riga kaget, bahkan Riga sampai berdiri,
tatapan mereka berdua melihat kearah kaca yang pecah.
Ternyata
kaca didekat pintu yang sempat menjadi tempat Andre mengintip telah berhasil
dipecahkan. Tangan para zombie moncor melewati kayu. Mengais-ngais meminta
sesuatu, kukunya yang hitam seperti siap mencabik.
Andre menatap tajam Riga. Memberi isyarat ‘Puas kan? Itu salah mu! Kau mati disini dan aku
yang akan selamat’ tapi Riga
malah cuek saja.
“Kemana jalan keluar dari sini?” Riga berjalan dan mencoba
menggeleda rumah untuk mencari tempat keluar lebih aman.
“Mungkin yang kau butuhkan pintu
belakang, disana ada pagar yang tinggi, jadi para zombie tidak mungkin berhasil
masuk”
Riga menatap heran pada Andre. “Terus jika kau tau itu
tempat aman untuk melarikan diri, kenapa kau tidak pergi?”
“Hei, kau pikir pagar itu mudah
dilewati? Pagar itu lebih tinggi dari aku, dan diatasnya ada besi yang runcing”
“Tunjuka padaku!”
Andre menunjukan arah pintu. Ia berjalan
perlahan melewati dapurnya yang berantakan.
Dapur mempunyai dinding berwarna hijau
muda, disana banyak perlengkapan memasak ibunya, seperti kompor, katel dan
sebagainya, dan ada juga tempat mencuci piring, diatasnya berjejer belasan
piring yang sudah dipenuhi debu. Andre belum pernah memakai banyak piring untuk
makan. Biasanya ia hanya menggunakan satu piring saja. Agar tidak terlalu
banyak menggunakan air untuk mencucinya.
Andre membuka sedikit pintu yang berada
dipojok dapur, dekat meja makan.
“Disana” tunjuk Andre pelan, Andre
menunjuk pagar besi dengan tinggi sekitar 3 meter yang berwarna coklat kemerahan,
tapi karena sudah tak terawat jadi berwarna kehitaman.
“Kita akan lewat situ” Riga memakai jaket kulitnya. “Lihat disana,
itu mobilku”
Riga menunjukan mobilnya, letaknya sekitar 10 meter dari
pagar. Itu bukan yang ditakutkan oleh Andre sekarang ini. Lagi pula, disana
hanya ada sedikit zombie. Tidak perlu dipikirkan. Tapi yang sedang
diperdebatkan dalam otak Andre adalah cara meloncati pagar itu.
“Tunggu, aku tidak mungkin loncat. Aku
bukan orang yang bisa jump style. Aku
pasti mati ketika berada diatas pagar” tolak Andre. Ia menutup pintu kembali.
“Aku tidak peduli, tapi aku akan keluar
dari sini” Riga
membuka pintu dan akan keluar.
“Tunggu” Andre menarik Riga. Andre sedikit ragu. Ia bahkan belum
mempersiapkan keperluannya.
“Apa lagi sih?” Riga menutup pintunya, sedikit dibanting. Untung
jarak pagar dan rumah sekitar 5 meteran jadi tidak terlalu dipermasalahkan oleh
pendengaran zombie.
“Bisa kah kau menungguku mengganti
pakaian dan menyiapkan yang kubutuhkan?” Andre meminta dengan ragu. Pandangannya
dialihkan kearah kompor gas untuk berpura-pura tidak tau saat Riga tertawa mengejeknya. Dan mengecam
tingkahnya.
Tapi Andre juga tidak mungkin jika harus
memakai kaos dengan celana pendek dibarengi sandal jepit andalannya untuk pergi
ketempat berbahaya, ia harus memakai baju yang tebal dan tertutup untuk
melindungi dirinya dari cakaran para zombie.
“Yasudah aku masih punya waktu 15 menit”
Riga pergi
ketengah rumah.
“Benarkah?” desah Andre pelan, ia tidak
percaya keinginannya dikabulkan. Ia langsung berlari kekamarnya.
Andre menganti kaosnya dengan yang lebih
bagus, ia menimpalinya dengan jaket abu-abunya. Bukan terbuat dari kulit tapi
cukup tebal untuk melindungi dari cakaran kecil.
Celana
pendeknya diganti dengan celana jeans panjang berwarna biru gelap.
andalnya diganti oleh sepatu ketsnya
berwana putih. Ia memakai topi untuk menambah kesan berpetualang. Memang tidak
penting, tapi ini menambah cita perjuangannya. Lagi pula Andre melihat Riga mengenakan topi.
Andre mengambil tas gunung hitamnya, ia
membawa 2 stel pakaian untuk ganti. Dan sandal jepit yang tadi dipakai. Andre
berlari keruang tengah. Ia membawa mie sebanyak yang bisa ditampung oleh
tasnya. Andre mengambil gelas dan meneguknya
“Yo, aku siap” ucap Andre tegang. Ia
mengambil foto keluarganya yang berada dimeja.
Riga melirik kearah Andre, ia sedang memperhatikan zombie
yang berada didepan rumah. “Tunggu” Riga
mengambil pistolnya. 3 tembakan dilakukan oleh Riga.
“Apa yang kau lakukan?” Andre memegangi
telinganya. Ia belum pernah mendengar suara tembakan sedekat ini sebelumnya. Tapi
tembakan tadi mengingatkan sejatanya yang menjadi pajangan selama ini. Andre
menyimpanya dipergelangan pinggang celananya. Agak ngeri, ia membayangkan jika
saat berjalan pelatuknya tertarik dan menembak sendiri. Tapi Andre berfikir
lebih cerah, Riga
juga tadi menaruhnya disana. Pasti lebih aman.
“Aku sedang memancing” jawab Riga sekenanya.
Andre sadar yang dilakukan Riga sangat cerdas. Jadi
para zombie datang kearah depan rumah. Dan membuat halaman belakang lebih sepi.
Dan sepertinya usahanya berjalan dengan
baik. Suara zombie lebih agresif dari yang tadi, dan gedoran semakin keras.
Riga berjalan setengah berlari kedapur. Andre mengikutinya
dibelakang. Agak deg-degan untuk Andre, tapi ia mencoba untuk kuat.
“Kau duluan naik pagar, nanti aku
menyusulmu” sahut Riga.
“Hah? Kenapa harus aku duluan?”
“Aku akan membantu naik, tenang saja aku
akan menjagamu dari belakang”
Andre sulit berdebat, alasannya lumayan
logis. Memang Andre yang bilang sendiri bahwa ia tidak bisa menaiki pagar. Karena,
bukan seorang jump style.
“Ambil ini” Riga menyerahkan kunci mobilnya. “kau buka
kunci didepan untuk kau dan aku, lalu kau nyalakan mesinnya, jadi saat aku datang
kita langsung pergi”
Andre membuang nafas lemah. Ia tidak
berfikir akan sesulit ini.
“Dalam aba-aba ketiga kita lari”
Andre bersiap-siap, ia tau apa yang
harus dilakukan.
“Sekarang!” teriak Riga, ia menarik tangan Andre keluar. Andre
sempet kesal, apa yang dimaksudkan aba-aba ketiga tadi, ia sama sekali tidak
mendengar aba-aba.
Matahari menyinari Andre. Sinarnya
terpancar melewati kulitnya. Andre merasa dirinya hangat. Padahal ini masih
pagi, ia selalu menginginkan matahari seperti ini. Ia sudah lama tidak
mendapatkan perhatian dari matahari.
Zombie yang berada siluar pagar langsung
mendekat. Sekitar 6 zombie mendorong-dorong pagar. Riga menembak seluruh zombie dengan pistolnya.
Andre menatap Riga
tajam, ia masih berfikir Riga
sangat bodoh. Untuk apa siasat yang dilakukannya dirumah tadi. Jika pada
akhirnya zombie yang berkumpul didepan tadi akan kembali setelah mendengar
suara tembakan.
Riga membantu Andre naik. Ia menyerahkan tangannya untuk
alat bantu Andre menginjak. Dalam sekali ancang-ancang Andre berhasil meloncati
pagar. Ia berlari mendekati mobil. Tidak begitu sulit karena tidak ada zombie
yang menghalanginya.
Andre sudah dekat dengan mobil ia harus
cepat membuka kunci pintu. Tapi yang mana, sekitar 6 kunci berbeda ada
ditangannya dalam satu gantungan. Ia mencoba melihat jenis kunci yang ada
dipintu.
Andre mencobanya, kunci pertama gagal. Ia mencoba
untuk kedua kali, ternyata berhasil. Terdengar suara ‘tek’ dari pintu mengalun
indah. Andre melihat Riga
yang baru berhasil meloncati pagar.
“Hah” Andre berteriak pelan, ia mundur
sekitar 2 langkah kebelakang. Ada
sesuatu yang menyentuh sepatunya, ia melihat kearah bawah, ternyata tangan.
Tangan itu bergerak dan muncul kepala
zombie dari bawah mobil. Zombie itu terus merangkak pelan. Ia memiliki wajah
yang banyak luka gigitan, dan yang paling ngeri badannya bunting. Ususnya
terburai, dan darahnya tersebar.
Andre melihat kearah belakang mobil, ternyata
benar. Zombie ini terlindas mobil Riga.
Dengan sekuat tenaga Andre menginjak-nginjak kepala zombie itu. Kepalanya sudah
busuk, jadi sedikit lunak untuk di injak. Sepatu putih Andre berubah warna
menjadi merah kecoklatan kental. Darah zombie.
Terdengar suara tembakan lagi dihasilkan
Riga. Andre
melihat kesal ke arah Riga.
Ia tidak habis pikir kenapa dia selalu memakai senapannya. Tapi perhatiannya
teralih oleh kawanan zombie yang mendekati mereka berdua.
Mereka berjalan setengah berlari. Zombie
yang berada di Sukabumi tidak begitu aktif. Karena, saat zombie datang ke Sukabumi
mereka tidak mendapat makanan apapun karena warga telah mengungsi. Dengan cepat
Andre membuka pintu mobil dan menguncinya. Ia memasukan kunci kearah mesin,
sesuai rencana. Tapi karena Andre gelisah, usahanya sangat rumit.
Para zombie mengerubungi mobil. Menggedor-gedor kaca
secara membabi buta.
Setelah beberapa kali mencoba. Akhirnya mesin
menyala. Andre menyalakan klakson memberi tau Riga bahwa ia sudah berhasil.
Riga yang sedang sibuk oleh zombie yang datang hanya bisa
melihat sesekali kearah mobil. Ia tidak mungkin berlari kemobil. Selain sulit
bergerak. Mobil dikerubuni oleh zombie. Ia sangat berharap Andre menjalankan
mobil. Karena, peluru yang ada disakunya juga semakin sedikit.
Andre mengusir zombie seperti keseekor
ayam. Tangannya dikibas-kibaskan. Tapi ia juga sadar bahwa usahanya sangat
konyol, ia menekan-nekan klakson memberi tau Riga yang tidak bergerak sama sekali.
“Jalankan saja mobilnya! Datang kemari!”
teriak Riga
sekuat tenaga.
Andre mendengar sekilas, kaca yang ditutup
membuat teriakannya tidak begitu terdengar jelas. “Aku belum bisa menyetir”
balas Andre.
“Lakukan saja!” balas Riga.
Jujur Andre belum bisa menyetir. Jika ia
meminta diajarkan kepada ayahnya. Ayahnya selalu menolaknya dengan alasan belum
saatnya. Bahkan yang Andre tau tentang perseneling hanya gigi 1 saja.
Andre dengan ragu berpindah kebangku
supir. Ia dengan hati-hati memindahkan persenelingnya ke gigi satu. Dengan
perlahan mengangkat kupling yang diinjaknya dan diganti dengan menginjak gas.
“Kok gajalan?” desah Andre, ia terus
menekan gas. Andre melihat sekitar mobil. “Ha, rem tangannya” Andre baru sadar
bahwa ia belum menarik rem tangan.
Riga sudah kewalahan menghadapi zombie yang berdatangan. Ia
hanya melihat kearah mobil, entah apa yang dilakukan Andre tapi dari tadi mobil
terus menderung. Tapi tidak jalan-jalan.
Dengan sekali penekanan Andre menginjak
gas. Agak loncat tapi mobil berhasil berjalan. Zombie yang didepan tertabrak. Berjalan
seperti dijalanan berbatu karena melindas zombie yang didepan. Andre membelokan
mobil. Belokannya tidak indah. Malah setengah mobil menaiki sedikit trotoar, ia
terus membelokannya kearah Riga.
“Buka!” Riga mengetuk pintu.
Andre lupa untuk membuka kunci
disebelahnya setelah ia tutup tadi. Ya, ini kegagalan dalam tugasnya. Andre
membuka kuncinya.
“Ayo jalan” ucap Riga yang masih belum sepenuhnya masuk
kedalam mobil. Bahkan pintunya pun belum ditutup.
Tanpa perlu diperintah lagi Andre
menekan gas dengan kuat. Ia menjalankan mobil seperti pengemudi mabuk. Berbelok-belok.
Zombie sudah agak jauh, mereka tidak
bisa mengejar, jalanpun mulai sepi dari perumahan.
“Berhenti disini, aku yang menyetir” sahut
Riga.
Dengan sekali rem, mobil berhenti. Hukum
newton melancarkan aksinya. Lebih kuat, membuat Andre dan Riga terdorong ke depan.
“Kau tidak tau tentang bersikap
perlahan?” cercah Riga.
Andre diam, ia mengganti posisinya
membiarkan Riga
menyetir. Ia tau salah, tapi bukannya ia sudah memberi tau bahwa ia tidak bisa
menyetir. Untung saja tuhan memberikan anugrah. Ia bisa menjalankan mobil sejauh
ini. Walaupun sedikit mual karena terus berbelok-belok walau jalan lurus
sempurna.
Mobil berjalan menjauhi perumahan Andre.
Semua pergi menjauh. Andre sempat sedih untuk meninggalkan rumahnya. Namun ia
cukup bahagia impiannya sudah bisa diraih.
“Kita
cari tempat mengisi bensin” sahut Riga.
“Sebenarnya siapa kau itu?” Tanya Andre,
ia masih tidak mengerti.
“Kau masih belum tau?”
Andre mengangkat kakinya dan melepaskan
sepatunya yang terkena darah zombie tadi, ia berdecak jijik. Lalu memeluk
kakinya. Itu adalah kebiasaan Andre, entah mengapa. Setiap memeluk kakinya yang
di tekuk. Andre merasa lebih tenang, aneh ya? Tapi memang begitu yang
dipikirkannya.
“Kau menulis status aneh di facebook. Membuat
dinding ku menjadi penuh” lanjut Riga
memberi tau Andre.
Andre melihat kearah Riga, ia kaget bercampur kagum, ia tidak
percaya. Riga
tidak mungkin berbohong karena ia mengetahui bahwa Andre telah membuat status
difacebooknya untuk meminta tolong.
“Oh, aku berterimasih, sangat berterimakasih”
ucap Andre tulus.
“Kau baru sadar?”
“Tentu saja” Andre memang tidak begitu
mengenal teman FB-nya. Kebiasaan buruk Andre di akun sosialnya. Ia sering nge-aad atau nerima teman sembarangan. Bahkan
ia tidak tau siapa dia. Membuat temannya menjadi 500 lebih, padahal yang ia
kenal dekat mungkin hanya 30 saja.
“Kau mengisi lengkap biodatamu, tapi
disana kau menuliskan umurmu 19 tahun, jadi aku sedikit bingung dengan tingkah
mu yang penakut seperti anak kecil” jelas Riga.
Pantas
saja, saat dia berhasil memasuki rumah ia menyatakan bahwa Andre ‘seorang
penakut’ dan ia tidak henti-hentinya memperhatikan wajah Andre karena merasa
aneh dengan usianya. pikir Andre
logis.
“Ngomong-ngomong dimana keluargamu?”
Tanya Riga yang masih penasaran dari saat pertama bertemu.
“Mereka terperangkap di Jakarta” Andre mengambil foto keluarganya
dari saku celana depan. Ia tidak sempat memasukan ke tas. Jadi membuat fotonya
agak kusut.
“Jakarta?
Kau berasal dari sana?”
Riga
memerhatikan yang dilakukan Andre secara seksama.
“Tidak, itu cerita yang rumit” jawab
Andre pelan. Jika mengingat kejadian orang tuanya ia selalu ingin menangis.
“Ya, aku mengerti, kita belum berkenalan
lebih dekat, Aku Riga Rachmana Putra, aku sebenarnya berasal dari Bandung” Riga
melirik sebentar karena konsentrasinya harus terfokus mengendarainya.
“Aku Rangga Andre Firmansyah, seperti
yang kau tau aku dari sukabumi. Sekarang aku ingin menanyakan padamu dimana
keluargamu?”
“Aku tinggal sendiri. Orangtua ku
bercerai saat usiaku 7 tahunan. Ayah ku pergi menikah lagi, dan katanya tinggal
diBali. Sedangkan ibuku setelah beberapa saat mendengar ayahku menikah lagi. Ia
bunuh diri”
Andre melihat sedih kearah Riga. Tapi dari mimik
muka Riga tidak
ada kesedihan apapun. Jadi Andre mengurungkan bela sungkawanya pada Riga.
“Ini keluargamu?” Riga meraih foto keluarga Andre. Ia melihat
secara seksama.
“Ya, itu diambil saat beberapa bulan
sebelum masalah Jakarta
terjadi”
Riga mengangguk, ia menaruh lagi fotonya, dan memfokuskan
kembali untuk mengendarai.
“Kau bekerja di perusahaan pembangkit
listrik?” Andre meraih kartu pekerja Riga
yang tersimpan dimobil. Dekat tempat Riga
menaruh foto keluarganya tadi.
“Ya, kau sudah memegangnya” Riga melihat tangan Andre
yang sedang memegang kartu kerjanya.
“Jadi kau yang mematikan listrik
disini?” Andre tersenyum sinis.
“Aku sebenarnya bekerja di Bandung” Riga
menunjuk kearah atas kartu pekerja yang bertuliskan ‘PT. Pembangkit Listrik
Negara Cabang Bandung’
Andre sudah tau. Tapi ia hanya ingin
membuat Riga
menyesal. Tapi seperti yang terjadi gagal total. Lagi.
“Kau masih berusia 23 tahun” Andre
melihat ke tanggal lahirnya.
“Kau pikir aku berusia berapa?”
“50 tahun” jawab Andre ngasal.
Riga tertawa garing. Andre sebenarnya tidak berminat
membuat guyonan. Karena memang sifat Andre adalah lurus-lurus aja.
“Sekarang kau akan pergi kemana?” Tanya
Riga yang bingung untuk membawa Andre. Ia hanya bermisi menjaili Andre
sebelumnya. Jadi tidak berfikir apa yang akan dilakukan saat ini.
Ia tidak mungkin mendorong Andre begitu
saja. Karena jarak pintu sebelah Andre agak jauh. Terlalu mencolok. Lagi pula
pintunya terkunci rapat.
“Aku tidak tau” Andre sendiri bingung. Ia
menaruh kembali kartu pekerja Riga.
Andre sebenarnya ingin kepengungsian, tapi ia memikirkan obsesinya ke Jakarta.
“Apakah kau mau aku antar ketempat
pengungsian?” usul Riga
yang berbasa-basi.
“Ah, aku tidak tau. Pengungsian bukan
pilihan pertamaku” tolak Andre. “Kau tinggal dimana?”
“Disana” Tunjuk Riga kebelakang mobil.
Andre langsung mengintip. Ternyata
dibelakang sudah dimodif menjadi seperti ruangan yang terdapat tempat tidur kecil,
dispender yang dibawahnya ada 2 galon persediaan, dan barang lainnya. Ini
seperti rumah kedua.
Andre merapikan duduknya kembali. “Aku
ingin ke Jakarta”
pinta Andre buntu.
“Apa kau gila! Kau tidak tau keadaan di
ibu kota?”
“Aku ingin melihat keluargaku”
“Terserah, nanti mungkin aku bisa
mengantarkanmu” Riga
memparkirkan mobilnya di SPBU.
“Ternyata kau orang baik juga” ucap
Andre pelan. Andre melihat keluar jendela. “Mungkin aku salah menilaimu”
“Ya, kau sangat salah menilaiku” Riga tersenyum janggal. Namun
Andre tidak melihatnya karena pandangannya masih melihat keluar jendela.
“Aku akan mengisi bensin hingga full. Kau
lebih baik membawa makanan untuk keperluan kita saat perjalanan”
“Apa? Sendiri?” Andre melihat kearah
mini market disamping SPBU.
“Apa yang kau takutkan? Zombie?” Riga membuka pintu dan
keluar.
“Ya” gumam Andre sambil
mengangguk-anggukan kepala.
Andre memakai kembali sepatunya yang
telah dilepas. Dengan perasaan ragu Andre membuka pintu mobil dan berjalan hati-hati
keluar.
Pandangannya terus melihat kesegala
arahnya, memfokuskan jika ada zombie yang datang.
Andre membuka pintu kaca mini market. Sedikit
berantakan, bahkan lacinya pun belum sempat tertutup. Andre membawa 2 keranjang
sekaligus.
Seperti sebelumnya Andre memfokuskan kemakanan yang berat. Namun
bukan roti, karena roti cepat basi. Dan bukan minum, dimobil masih ada 2 galon
penuh persediaan.
Ia memasukan makanan dengan cepat, Andre
mengambil tissue yang berada dirak. Ia cepat membukanya, dan membersihkan
sepatunya. Andre duduk dilantai dan berkonsentrasi pada darah agar tidak
mengenai tangannya.
“Haarrrggghhh” geram zombie.
Andre langsung tersentak dan melihat kearah
rak sebelah kanan. Terlihat tangan zombie, Andre mencoba untuk diam. zombie
yang lain berjalan mendahului zombie yang memegang rak.
Zombie itu mempunyai luka bakar parah,
ia mendekati pintu keluar mini market sepertinya mereka melihat kearah mobil
dan kearah Riga.
Andre ngeri melihat zombie yang terbakar itu,
tapi ia tidak melihat bekas gigitan. Mungkin dari Jakarta. Karena zombie disana tidak punya
bekas gigitan.
Zombie yang memegang rak berjalan dua
langkah. Tubuhnya hancur penuh gigitan dan cakaran, pastinya ia adalah korban
si zombie hangus itu.
Tanpa diduga zombie yang berwajah hancur
itu menengok kearah Andre. Geramannya menunjukan kebahagiaan menemukan makanan.
Andre kaget dan mencoba berdiri, kakinya
agak lemas. Si zombie hangus juga sudah mengetahui keberadaan Andre.
Andre membawa keranjangnya dan berlari,
zombie itu mengejarnya. Andre akan keluar setelah mendapatkan makanannya penuh
diranjang. Ia kembali ketempat makanan ringan, ia menjatuhkan rak disampingnya
agar menghadang kedua zombie tersebut.
Riga sedang mengisi bensinnya, untuk membuat full membutuhkan waktu yang agak lama. Ia
sebenarnya akan berencana meninggalkan Andre disini. Disaat bensinnya full, Riga akan pergi begitu saja. Memang kejam,
namun itu suatu hiburan tersendiri untuknya.
Riga mendengar suara kegaduhan didalam mini market. Ia
melihat sebentar. Terlihat secara samar, rak berjatuhan, dan ia melihat 2
zombie. Entah dimana Andre, tapi ini kesempatannya meninggalkan Andre. Riga mempercepat
pengisiannya. Mobil sebenarnya belum terisi penuh oleh bensin tapi Riga menghentikan
pengisian.
Setelah menutup lubang bensin. Riga masuk kemobil dan
menyalakan mesin. Ia melajukan mobilnya, tapi pikirannya memikirkan Andre, ia
agak tidak tega. Padahal sebelumnya ia pernah melakukan ini pada 2 orang
sebelumnya.
Riga memundurkan mobilnya dan keluar mencoba menolong
Andre didalam mini market.
Komentar
Posting Komentar